Rabu, 18 Juli 2012

Kisah Ngentot Ibu dan Anak Kandung 2

Tapi desakan ibunya akhirnya membuat dia mau tidak mau harus membicarakannya, “Ini… ini… karena aku merasa malu jika berdekatan dengan gadis-gadis yang menarik perhatianku, setiap kali aku berdekatan dengan gadis yang kusukai, setiap kali lidahku kelu, bicaraku tergagap-gagap dan aku selalu salah tingkah” aku Bayu kepada ibunya.
Salekha terkejut tetapi dia berusaha untuk tidak menunjukkannya, dia tidak pernah tahu keadaan Bayu yang seperti itu sebelumnya “tunggu sebentar, kamu ingin mengatakan bahwa setiap berdekatan dengan gadis yang kau sukai, maka kamu selalu menjadi salah tingkah dan tergagap-gagap?” tanya Salekha untuk mencari penegasan.
“Sungguh ma!, aku selalu salah tingkah dan lidah ku tiba-tiba menjadi kelu setiap berdekatan dengan gadis-gadis, seumur hidupku aku pernah mengenal dua gadis yang kusukai, tapi setiap kali aku berdekatan dengan mereka, setiap kali juga aku bingung dan tidak mampu bicara apa-apa” cetus Bayu tanpa bisa menahan diri lagi. “Benarkah?” Tanya Salekha heran, “Ya Tuhan, Bayu sudah berusia 18 dan dia hanya pernah suka dengan dua anak perempuan”, pikirnya, “Pasti Bayu masih seorang perjaka” batinnya kembali.
Terpikir olehnya sebuah masalah yang lebih besar, “tapi kau menyukai anak perempuan kan? Maksudku tidak menyukai sesama jenis?” tanya Salekha dengan hati yang diliputi kekhawatiran. “Maaa…, tentu saja aku menyukai anak-anak gadis, aku bukan seorang gay” jawab Bayu dengan malu.
Salekha menghela napas lega. “Hanya saja … hanya saja … oh terkutuk… Aku bahkan belum pernah punya pacar seorang pun” lanjut Bayu. “Wah Bayu, mama benar-benar tidak menyangka” kata Salekha tanpa bisa menyembunyikan kekagetan dalam nada suaranya. “Bukankah kau pernah pamit pada mama untuik kencang dengan gadis-gadis yang menjadi pacarmu?” lanjutnya.
“Maaf ma, aku berbohong…, sebenarnya aku pergi ke mall atau ke perpustakaan, aku tadinya tidak ingin menjadi beban pikiranmu, seudah banyak beban yang harus mama tanggung” jawab Bayu dengan suara lirih. Tiba-tiba Salekha sadar dia telah banyak mengabaikan Bayu semenjak ayahnya meninggal, dengan seluruh aktifitasnya mencari nafkah dan bersikap terlalu mengasihani diri sendiri, disisi lain dia juga merasa bodoh berpikir telah memahami Bayu, satu-satunya anaknya. “Bagaimana mungkin aku kehilangan begitu banyak kehilangan pengenalanku atas anakku, dan betapa bodohnya aku tidak menyadari bahwa anakku telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang dewasa dan bukan lagi anak kecil” batinnya.
Mereka duduk terdiam selama beberapa saat tanpa seorangpun mampu berkata-kata. Akhirnya Salekha memeccahkan keheningan dengan sebuah gagasan. “Bayu bagaimana jika kita berkencan?” tanyanya kepada Bayu. “Jangan mengolok-olok aku ma…” jawab Bayu.
“Mama sungguh-sungguh, bukankah kamu merasa nyaman disekitar mama, jadi kenapa kita tidak pergi berkencan, anggaplah mama seolah-olah pacar kamu, dan kamu bisa berlatih bagaimana caranya pacaran, mama akan memberitahu kamu apa yang harus dilakukan saat pacaran, apa yang boleh dan apa yang tidak, mama masih ingat kok apa yang disukai para gadis dari pemuda-pemuda seperti kamu, dan apa yang diharapkannya” Salekha berhenti beberapa saat, dia menyadari bahwa mungkin Bayu malu kalau harus jalan berdua dengannya. “Itu… itu jika kamu tidak merasa malu jalan dengan mama kamu yang sudah tua ini” lanjutnya kepada Bayu.
“Mama sudah tua?!, Ya Tuhan, mama adalah seorang wanita tercantik yang penah saya kenal” jawab Bayu dengan muka memerah karena malu berkata begitu. “Terima kasih sayang, dan kamu adalah pemuda tertampan yang mama pernah kenal, jadi kenapa kita tidak mencoba berlatih berkencan?” balas Salekha sambil balik bertanya.
Bayu terdiam selama beberapa menit, “mungkin ada baiknya jika dilakukan, barangkali ini bisa menjadi cara therapy yang baik untuk membantuku bersikap wajar didepan gadis-gadis yang kusukai” pikirnya. Tiba-tiba saja dia menyukai gagasan itu. “Ya….. oke … aku rasa mungkin menyenangkan” Bayu akhirnya berkata dengan nada acuh tak acuh.
“Suara kamu kok kayaknya tidak bersemanagt bersemangat” timpal Salekha dengan mencibir. “Bukan begitu maksudnya…” kata Bayu cepat, “tapi … tapi … “ suara Bayu menggantung, “apa masalahnya sayang?” tanya Salekha kembali.
“Saya tidak … eh tidak tahu tentang bagaimana…. hal-hal yang saya. .. saya. .. eh saya. … akan … eh … bagaimana jika saya berlaku bodoh sehingga itu akan terli… terihat … memalukan” jawab Bayu dengan suara tergagap.
“Apapun yang kau lakukan, aku tidak akan mempermalukan buah hatiku sendiri” kata Salekha sambil menepuk kakinya, tanda sayang. “Ayo, kita berganti pakaian, dan kamu akan mengajak saya untuk makan malam dan nonton film,” kata Salekha sambil beranjak kemeja mengambil kunci mobil, “kamu bahkan bisa menyopiri mobil kita sayang” lanjut Salekha sambil melihat pada Bayu.
“Mammmmm,” kata Bayu sementara wajahnya memerah lagi. Tapi disamping malu dia juga merasa girang dapat melakukan suatu hal yang sudah diimpikannya sejak lama, berkencan dengan seorang perempuan, walaupun perempuan itu adalah ibunya sendiri.
Dua puluh menit kemudian, Bayu dengan gugupnya mondar-mandir di ruang tamu, sambil menunggu ibunya. Ketika Bayu melihat ibunya turun tangga, Bayu menatapnya dengan pandangan terpesona dan mulut terbuka tanpa suara.
Salekha mengenakan baju atasan putih yang ketat dengan belahan leher rendah, sehingga memperlihatkan bagian atas tetek yang membengkak, sedang baju kebawahnya merupakan rok hitam pendek dengan sepatu hak tinggi. Dia pikir karena Bayu sering menyarankannya memakai baju seksi seperti itu, maka dia mengenakan pakaian tersebut dengan tujuan untuk menyenangkannya.
“Ada yang salah?” Salekha bertanya khawatir ketika melihat wajah anaknya. Tiba-tiba, ia merasa bahwa ia telah melakukan kesalahan besar. “Ma, eh, eh, kau …terlihat…, terlihat …” Bayu tergagap mencoba untuk mengatakan betapa cantiknya ibunya.
“Aku akan menggantinya” kata Salekha sambil mau berbalik kembali ke atas untuk menukar pakaiannya, dia khawatir kalau dirinya salah karena memakai baju yang terlalu seksi. “Tidak..! …tidak.. mama terlihat cantik sekali” akhirnya tercetus juga kata-kata Bayu. Salekha berbalik kembali sambil tersenyum. “Wah, terima kasih Sayang, aku pikir kau tidak suka dengan apa yang saya pakai.”
“Wah ma!, saya harap beberapa teman saya melihat saya berduaan dengan mama, pasti mereka akan sangat iri!” lanjut Bayu kepada ibunya. Salekha merasakan hatinya melambung dengan bangga dan cinta karena pujian Bayu. “Yup, mari kita membuat mereka cemburu. Untuk malam ini panggil saja saya dengan Salekha,” katanya sambil tersenyum.
“Oke Ma .. eh Salekha,” jawab Bayu. “Salekha” diulangnya sendiri sebutan itu yang terasa sangat menyenangkan keluar dari mulutnya. Bayu bergegas berjalan ke mobil di depan, agar bisa membukakan pintu mobil untuk ibunya. Saat duduk, Bayu tidak bisa menahan dirinya untuk tidak melihat sebagian paha ibunya karena tertariknya rok keatas. Ketika ia menengadah ia melihat ibunya tersenyum padanya. “Ya Tuhan, dia melihat saya mengintip bagian dalam dari roknya”, pikir Bayu. “Saya tidak boleh melakukannya, itu salah” batinnya , menyalahkan dirinya sendiri.
Sambil menyetir, Bayu terus melirik ke arah kaki ibunya. Dia merasakan batang kontolnya mengeras dan kaku, rok pendek ibunya tertarik sampai lebih dari pertengahan pahanya, memperlihatkan paha ibunya yang bulat panjang, putih mulus. Beberapa kali Salekha mencoba untuk menarik roknya agak kebawah, tapi posisi kursi mobil yang rendah membuatnya kesulitan membenahi roknya.
Bayu pergi ke sebuah café & resto Eropa, sebuah tempat yang pernah dikunjungi mereka beberapa waktu yang lalu, sebuah café & resto yang kecil tapi nyaman, tenang, dan intim dengan suasananya yang bergaya oriental mediteranian, meja-meja ditutupi taplak meja berwarna merah. Diatas setiap meja terhidang masing-masing sebotol anggur tua, dengan lilin menyala disebelahnya, dan alunan musik dari biola terdengar mengalun menambah romantisnya suasana.
Suasana di sana mengingatkan mereka akan tempat tinggal mereka yang lama, sewaktu Taufan bertugas di Eropa, Alih tugas Taufan juga yang menyebabkan Salekha berhenti kerja. Hampir delapan tahun mereka tinggal di Venesia, sampai akhirnya Taufan kembali bertugas dinegeri sendiri, tak nyana tidak berapa lama sejak kembali ketanah air, Taufan tewas dengan mengenaskan.
Mereka makan malam dengan sangat santai, menyantap hidangan ala italia. Salekha bahkan membiarkan Bayu meminum beberapa gelas anggur. Salekha ingin membuatnya merasa lebih dewasa, dan beberapa gelas anggur bukanlah masalah besar, tapi bisa membuat seseorang tampil lebih percaya diri.
Salekha sendiri meminum anggur agak lebih banyak dari Bayu, sehingga dia merasa agak sedikit mabuk, tetapi juga hangat dan santai. Bayu sendiri tidak mengalami kesulitan untuk berbincang dengan ibunya, rupanya anggur telah sedikit melonggarkan kegugupannya, dan perasaan bahwa ini bukan kencan yang nyata telah membuatnya santai.
Mereka berbicara tentang sekolah, musik, teman-teman, film, dan semua hal yang biasa diperbincangkan oleh sepasang remaja saat kencan. Kadang-kadang Salekha akan menunjukkan hal-hal tentang hal-hal bagaimana seharusnya Bayu bertindak saat berkencan. Seperti menunggu sampai pasangannya duduk sebelum dia sendiri duduk atau membukakan pintu restoran untuk pasangannya. Salekha mencoba untuk tidak terlalu kritis dalam menilai Bayu, sementara Bayu sendiri tidak membutuhkan banyak arahan, karena secara alami dia memiliki sifat gentle dan galant seperti ayahnya.
Untuk sementara waktu, Bayu benar-benar lupa bahwa Salekha adalah ibunya. Demikian juga dengan Salekha, dia juga lupa bahwa teman kencannya adalah anaknya, dimatanya Bayu tampak begitu dewasa dengan mata yang bersinar ditemaramnya nyala lilin, sementara wajahnya tampak berseri seperti sinar yang dilontarkan cahaya lilin. “Ya Tuhan, betapa tampannya dia” pikirnya. Tiba-tiba Salekha merasakan getaran arus listrik mengalir hangat dari hati kesekujur tubuhnya, membuatnya terasa nyaman dan hangat.
Ke Bahagian 3


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar