Rabu, 18 Juli 2012

Kisah Ngentot Ibu dan Anak Kandung 5

Keesokan paginya Bayu melihat ibunya duduk di dapur sambil minum secangkir kopi. Ada kesunyian yang mencekam, saat Bayu mengambil secangkir kopi dan duduk dikursi meja makan. Cahaya hari baru membuat segalanya tampak berbeda. Mereka masing-masing menyalahkan diri sendiri atas apa yang telah terjadi.
“Mam …”, “Bayu…” mereka berdua berbicara pada saat yang sama, lalu mereka sama-sama berhenti dan tertawa gugup. “Maaf,” kata Bayu. “Bayu… eh … kita eh … apa … yang terjadi tadi malam adalah …” Bu Salekha berusaha menjelaskan dengan susah payah. “Saya. .. saya. .. tahu ma,” sela Bayu. “Aku mohon maaf atas semua apa yang terjadi” lanjut Bayu dengan suara bergetar menahan tangis, dan menunggu kelanjutan kemarahan ibunya.
Bu Salekha menatapnya dengan heran. “Itu bukan kesalahanmu sayang, itu adalah kesalahanku.. milikku.. mari kita lupakan saja semuanya, mungkin ini semua hanya karena pengaruh anggur yang kita minum” lanjut Bu Salekha berbohong. “Saya seharusnya tidak minum begitu banyak.”
“Bisa … bisa kah kita eh … keluar lagi?” Bayu bertanya penuh harap. “Saya pikir bahwa itu bukan sebuah gagasan yang baik bagi kita” jawab Bu Salekha. “Aku tahu itu” kata Bayu dengan nada frustasi dan marah. Namun dia marah kepada dirinya sendiri tanpa berkata lagi dia segera bangkit dari kursi dengan air mata di matanya dan bergegas keluar dari ruangan.
“Bayu!” Bu Salekha memanggilnya. Namun Bayu sudah keluar dari rumah, Bu Salekha merasa hatinya hancur “oh aku telah mengacaukan semuanya” pikirnya dengan air matanya mulai mengalir.
Malam itu Bu Salekha mengetuk pintu Bayu, dan mendorong pintu sampai terbuka perlahan setelah mendengar Bayu menyuruhnya masuk. Bayu berbaring di atas tempat tidur sambil melihat sebuah majalah olahraga. “Bayu, bisa kita bicara?” tanya Bu Salekha sambil duduk di tempat tidur, wajahnya tegang dengan emosi terselubung.
“Tentu,” jawab bayu sambil berguling dan menatap langit-langit dengan tangan di belakang kepala.
“Mama minta maaf Bayu… mama minta maaf tentang … tentang semua yang telah terjadi,” kata Bu Salekha terpatah-patah berusaha mencurahkan isi hatinya. “Tuhan tahu Bayu, mama adalah penggagas kencan tersebut, dan mama sudah memikirkannya sepanjang hari tentang hal itu dan mama tahu itu seluruhnya salah mama. Kita berdua merasa kesepian dan sangat kehilangan ayahmu…” kata Bu Salekha dengan suara tersendat-sendat dan akhirnya terhenti sama sekali dan dia mulai menangis.
Bayu duduk dengan cepat dan bergerak lebih dekat kepada ibunya. Dengan hati-hati ia memeluk Bu Salekha dan mendekapnya ke dadanya, air mata mulai mengalir di pipinya sendiri.
Meskipun Bu Salekha merasa nyaman dalam pelukan anaknya, tapi isak tangisnya menjadi lebih keras lagi. Semua emosi terpendam dalam hatinya membuncah keluar tanpa tertahankan dari dirinya sekaligus. Dua tahun menjalani hidup kesepian tanpa suami, pekerjaan baru, berjuang untuk membiayai keluarga, dan masalah sekarang ini, itu sungguh terlalu banyak untuk ditanggungnya sendiri.
Bayu mendekapnya untuk waktu yang lama, sampai saatnya Bu Salekha membersit hidungnya. “Bu, aku sangat mencintaimu” kata Bayu dengan tulus sambil membelai bahu ibunya.
Bu Salekha kembali duduk dan mengeringkan air matanya. “Bayu, mama juga sangat menyayangimu, kita satu sama lain saling membutuhkan sejak lama, tapi sekarang kita menjadi lebih saling membutuhkan satu sama lain, hanya saja…” kata-kata Bu Salekha terputus, dia sebenarnya ingin melanjutkan kata-katanya dengan mengatakan bahwa “caranya tidak boleh seperti yang kemarin malam terjadi”, tapi keraguan yang sangat menyebabkan kata-kaytanya terputus menggantung begitu saja.
“Bisakah kita jujur satu sama lain untuk sementara?” Bayu bertanya dengan cara yang lebih dewasa daripada usianya yang sebenarnya. “Tentu saja! kita harus jujur satu sama lain,” jawab Bu Salekha dengan hati bertanya-tanya apa yang Bayu maksudkan.
“Mama … mama adalah seorang wanita yang sangat cantik dan sangat seksi,” kata Bayu sambil berusaha keras untuk tidak gagap. “Saya. .. kita … eh …. aku …., aku hanya seorang remaja yang sedang dimabuk masa puber dan didorong oleh hormon laki-laki ku, karena itu aku minta maaf jika aku keluar dari jalur,” cetus Bayu pada akhirnya, sambil tertawa mentertawakan diri sendiri.
Bu Salekha menatapnya dengan alis terangkat lalu perlahan bibirnya membentuk senyuman. Tiba-tiba, mereka berdua tertawa terbahak. Mereka tertawa begitu keras sampai mereka hampir jatuh dari tempat tidur. Situasinya sekarang tampak begitu konyol, tapi dalam kekonyolan itu diam-diam mereka telah mendapat kesepakatan dari semua permasalahan yang tadinya menimpa mereka, dan terjalinnya pengertian yang mendalam diantara mereka.
Ketika mereka telah kembali menjadi tenang, Bu Salekha berpaling kepada Bayu dan berkata, “Kamu dapat mengajak mama untuk berkencan kapan saja kamu mau” katanya sambil mencium bibir Bayu sekilas. “It’s great ma…., karena tim sepak bola kampusku mengadakan piknik pada hari minggu mendatang, dan aku butuh teman pendamping” jawab Bayu penuh harap.
“Baiklah, aku akan jadi teman yang mendampingimu” jawab Bu Salekha. Bayu menghela napas lega, semuanya berjalan sesuai dengan harapannnya. “Ceritakan pada mama dalam rangka apa tim sepak bola kampusmu mengadakan piknik” tanya Bu Salekha pada Bayu.
“Seperti mama ketahui, aku tergabung dalam tim sepak bola kampus ku, dan sekarang kita mengadakan acara perpisahan bagi anggota tim yang senior yang telah lulus jadi sarjana, acara tersebut mengundang semua anggota tim beserta keluarganya, bagi yang telah berkeluarga, dengan orang tua, atau dengan pacarnya” jelas Bayu pada Bu Salekha.
“Tadinya aku tidak berniat menghadirinya, aku tidak punya pacar, atau teman perempuan yang bisa mendampingiku, karena aku sadar bahwa teman-teman ku semuanya belum berkeluarga dan mereka pasti tidak akan membawa orang tua mereka, tapi pasti mereka akan membawa pacar-pacar mereka ke acara tersebut, dan aku tidak berniat menjadi kambing congek atau orang asing diacara tersebut dengan hanya datang seorang diri. Tapi sekarang aku berniat menghadirinya karena mama bersedia menjadi teman perempuan yang akan mendampingiku” jelas Bayu lebih lanjut.
“Memangnya acaranya dimana tempatnya?” tanya Bu Salekha kepada Bayu. “Tempat pastinya aku masih belum tahu, tapi yang jelas akan berada di tempat terbuka, entah taman ataupun tempat wisata alam lainnya” jawab Bayu sambil tersenyum. “Ok, pada saatnya mama akan menjadi teman perempuan yang akan mendampingimu” jawab Bu Salekha, “ingatkan saja mama akan harinya” lanjutnya. Bayu menjawab dengan anggukan kepalanya.
Ke Bahagian 6

3 komentar: