Rabu, 18 Juli 2012

Kisah Ngentot Ibu dan Anak Kandung 8

Bayu menunggu ibunya turun di ruang tamu, sehingga mereka bisa pergi ke Taman Suaka Alam, untuk menghadiri acara perpisahan tim sepak bola kampusnya. Ketika dia melihat ibunya pagi ini, tidak terlihat ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa ibunya tahu apa yang telah dilakukannya. Ibunya tersenyum manis padanya dan mereka berbicara tentang segala hal yang umum. Karenanya Bayu berpikir bahwa ibunya tidak menyadari sama sekali kejadian semalam, dan dia lolos dari kasus air maninya yang menyemprot paha belakang ibunya. Tapi dia sadar untuk lain kali dia mesti lebih berhati-hati.
Bu Salekha sendiri mencoba untuk berpikir logis dan realistis tentang apa yang telah terjadi, dilihatnya Bayu sebagai anak muda yang sedang tumbuh dan dimasa pancaroba, karena itu wajar saja bagi Bayu jika dia melihat ibunya sebagai makhluk seksual dan wanita yang menarik perhatiannya. Ini bukan suatu hal yang aneh dan perlu diributkan. Bu Salekha merasa dia hanya harus lebih berhati-hati.
Bayu sangat terkejut ketika melihat Bu Salekha turun dengan mengenakan baju tank top dan sebuah celana pendek yang sangat ketat. Bayu nyaris melihat bibir tempek ibunya yang tembem diselangkangan ibunya karena ketatnya celana tersebut.
Dari pengamatannya dia yakin ibunya tidak memakai celana dalam, karena dia tidak melihat bayangan celana dalam di celana ibunya yang ketat. “Tidak mungkin mama memakai celana dalam, kalau pakai pasti tercetak” pikirnya sambil berusaha tidak menatap selangkangan ibunya.
Saat Bayu melihat ke bagian tubuh atas, ternyata ibunya juga tidak memakai bra, itu terlihat dari payudara Bu Salekha yang besar dan menegak itu bergoyang bebas dengan putingnya yang menonjol dibalik baju tank topnya, sewaktu dia berjalan kearahnya.
“Bagaimana penampilanku, apakah aku terlihat oke kali ini?” tanya Bu Salekha memimnta penilaian Bayu. “Wow.. mam aku akan membuat semua orang iri karena menggandengmu” jawab Bayu. Bu Salekha tersenyum manis pada anaknya dan menggandeng tangan Bayu, sehingga tangan tersebut menyentuh sisi payudara, saat mereka berjalan keluar pintu.
Taman Suaka itu merupakan sebuah arena rekreasi yang besar dan luas serta dilengkapi fasilitas-fasilitas yang banyak seperti meja piknik, hutan lebat dan sebuah danau besar dengan sejumlah sampan dan sepeda air.
Bu Salekha dan Taufan cukup sering pergi ke sana membawa Bayu rekreasi ketika Bayu masih anak-anak, dan membiarkan dia bermain di ayunan dan berenang di danau. Ketika mereka tiba, taman tersebut sudah sangat ramai dengan beragam kegiatan.
Dari rombongan Bayu sendiri ada sekitar 60 atau 70 orang yang datang pada acara tersebut yang terdiri dari tim sepak bola, keluarga dan teman. Setelah sampai Bayu bergegas keluar dan membuka pintu untuk ibunya. Mereka berjalan dengan bangga ke tempat kelompok mereka berkumpul pada acara tersebut.
Jelas sekali bahwa sejak awal penampilan Bu Salekha telah menarik perhatian semua orang, kaum laki-laki baik tua dan muda sama tergiur melihat Bu Salekha. Sementara kaum perempuan tampak cemburu.
Beberapa orang mencoba untuk mendekati Bu Salekha, tapi Bu Salekha selalu menolak mereka semua, dan mengatakan bahwa dia telah memiliki teman kencan, yaitu Bayu, anaknya yang kini berperan sebagai pacarnya. Bayu sendiri penuh dengan perasaan bangga dia berjalan dengan elegant seperti seekor burung merak, dan tidak pernah membiarkan ibunya terlalu jauh dari pandangannya.
Setelah semua beramah tamah dan makan, mereka mulai berpencaran dengan kegiatan masing-masing, beberapa orang bermain voli, dan yang lain berenang, beberapa orang menaiki perahu dan mendayung di danau.
Kerumunan orang mulai menipis. Bayu dan Bu Salekha membawa tikar dan barang-barang bawaan mereka dan pergi ke atas bukit dan menemukan tempat di bawah pohon beringin yang besar untuk mereka bersantai, cukup jauh dari keramaian. Bu Salekha yang agak terlalu banyak minum badannya tampak goyah saat membantu Bayu menghamparkan selimut di tanah, untuk tempat duduk mereka . Bu Salekha tampaknya menjadi terlalu banyak minum akhir-akhir ini.
Keduanya duduk mengamati orang-orang di bawah, menikmati desiran angin dingin diawal musim panas yang justru terasa dingin karena letak taman tersebut cukup tinggi diatas permukaan laut..
Bayu menarik tubuh ibunya sehingga bersandar pada dirinya, dan memeluknya, “Aku mencintai mu Ma” memeluk bisiknya. “Aku juga mencintaimu Bayu,” kata Bu Salekha sambil berpaling kepada anaknya. Bayu melihat air mata menggenang di mata ibunya. “Apa ada yang salah ma?” Bayu bertanya dengan nada prihatin.
“Tidak ada sayang, hanya saja bahwa ini tampak begitu sempurna seperti dahulu…, dulu ayahmu dan mama sering membawamu bermain kemari, kami bahkan pernah duduk di bawah pohon ini…., mama merasa ini adalah peristiwa yang terbaik sejak ayahmu meninggal. Terima kasih telah membawa mama kemari, dan selalu mendampingi mama” kata Bu Salekha bersandar pada Bayu dan meletakkan kepalanya di bahunya. Beberapa lamanya mereka berdiam diri, dan Bu Salekha mulai memejamkan matanya seakan-akan tertidur.
“Aku akan selalu mendampingi mama, dan tidak akan pernah meninggalkan mama” kata Bayu. Seperti tadi saat berjalan bergandengan keluar rumah, lengan atas Bayu menempel pada tubuh ibunya, sehingga lengan tersebut menyentuh payudara Bu Salekha.
Bayu sadar lengannya menyentuh sisi payudara ibunya, dank arena besarnya, payu dara tersebut sebagian keluar dari tank top yang dipakai ibunya. Tangan Bayu bergerak perlahan, sehingga jarinya menyentuh payudara yang lembut di luar baju tank top ibunya.
Untuk sesaat Bayu menahan napas sambil menunggu ibunya menghentikan tingkah lakunya. Bu Salekha menyadari apa yang telah Bayu lakukan, namun dia tidak ingin membuat Bayu menjadi malu dan merusak suasana indah yang mereka rasakan.
Karenanya dia membiarkan jari tangan Bayu dengan lembut mengelus payudaranya. Tapi rasa hangat yang nikmat mulai timbul di bagian bawah perutnya, membuat lengannya sedikit mengejang dan memaksanya untuk lebih rapat bersandar ke dada Bayu yang sangat bidang dan kekar.
Bayu menggerakkan jari-jarinya dibuah dada ibunya yang terasa begitu lembut dengan sangat perlahan. Dia terus menerus melakukan itu untuk waktu yang lama, sambil menunggu ibunya meraih tangannya dan mencegahnya seperti yang dia lakukan saat nonton film di bioskop.
Ketika ibunya tidak juga bergerak untuk menghentikannya, Bayu mulai berani membuka telapak tangannya dan meletakkannya dibawah payudara ibunya, lalu perlahan-lahan telapak tangannya terangkat.
Kepalanya mulai terasa berpusing, ketika telapak tangannya menangkup seluruh buah dada ibunya tersebut yang masih tertutup baju tank top tersebut. Batang kontol berdenyut dengan kuat di dalam celananya. Sentuhan puting buah dada ibunya dengan telapak tangannya terasa seperti membakar tangannya.
Akal sehat Bu Salekha yang berada dalam pengaruh alkohol mulai menjeritkan peringatan, tapi kegairahan yang sangat dan denyut-denyut di selangkangannya menahannya untuk mencegah perbuatan Bayu lebih jauh lagi.
Bayu merasa seperti mendengar erangan ibunya, dia berhenti bergerak dan memperhatikan ibunya dengan teliti. Tapi tidak, ibunya bernapas berat dan teratur. Dia menatap wajahnya dan melihat bahwa matanya tertutup. Berat tubuh ibunya yang menyender penuh padanya, membuatnya berpikir bahwa ibunya mungkin masih tertidur.
Bayu memindah tangan ke bawah tepat dibawah ujung baju tank top ibunya, terasa olehnya hangat sentuhan tangannya kekulit perut ibunya. Perlahan ia menggerakkan tangannya ke atas, sedikit demi sedikit. Dia merasakan sengatan listrik ketika sisi tangannya menyentuh kulit buah dada ibunya yang telanjang.
Denyutan keras di dalam celananya sempat membuatnya berpikir akan memancarkan air maninya. Bayu menarik napas dalam-dalam dan memasukkan tangannya kedalam baju ibunya. Sekarang dia memegang seluruh payudara telanjang ibunya sendiri di tangannya.
Ke Bahagian 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar